Waktu itu terasa
singkat, saat aku menikmatinya. Dulu waktu itu adalah waktu yang sangat
berharga, persaudaraan yang sangat berharga dan juga ikatan persaudaraan yang
saling menguatkan dan juga melengkapi. Kenangan indah bersama kalian,
kebahagiaan yang sangat berarti. Namun, apa yang terjadi. Saat aku berada di
tempat yang berbeda dengan kalian. Perlahan, pelan kalian meninggalkanku,
ataukah sebaliknya akulah yang meninggalkan kalian.
Awal mula, aku memohon,
aku meminta maaf bahkan aku mengorbankan diriku untuk menjelaskan pada kalian.
Tapi apalah daya, kepercayaan yang aku berikan tak menjadikan aku dipercaya
oleh kalian. Padahal saat itu aku bisa marah, mengeluarkan hakku. Tapi, hati dan
perasaan ini tidak bisa. Mereka (hati dan perasaanku) menentangku, bahkan
dengan lembut mereka mendinginkan dan melembutkanku. Hingga, aku dipaksa untuk
lebih mempercayai mereka. Jadilah aku lebih mempercayai mereka. Namun, sungguh
tak bisa ku pahami, sungguh apakah aku sangat bersalah kepada mereka. Apakah
aku mempunyai kesalahan yang berat pada mereka, sungguh hati dan perasaanku
bertanya. Kesalahan apa gerangan yang aku lakukan? Apakah karena aku menentukan
jalanku sendiri sehingga berbeda dengan mereka adalah salah.
Secara perlahan, aku
berusaha menekan perasaanku, menekan emosiku untuk tidak menghancurkan. Sungguh
ironis memang, disaat aku berada diatas perputaran roda, di saat itu pula aku
merasakan sakitnya terlindas.
Rasa sakit ini sungguh
sangat menyiksa, rasanya seperti pukulan palu yang meremukan setiap tulang dan
persendian penopang kehidupanku. Sampai kapan rasa ini terus ada padaku, apakah
perasaan sakit ini akan terus ada sampai berpuluh-puluh tahun, atau bahkan
sampai aku merasakan hembusan terakhir nafasku.
Aku bukanlah seorang
malaikat yang selalu benar, menurut dan patuh. Tapi aku adalah manusia yang tak
bisa terhindar dari salah, akupun juga tak selalu benar, bahkan bukannya aku
bandel atau membangkan, namun aku adalah aku. Aku bukanlah orang yang bisa
kalian perintah, kalian peralat ataupun kalian jadikan boneka. Betapa bodohnya
mereka yang menjadi boneka, mau diperalat, disuruh ini itu.
Aku adalah aku, aku
bukanlah orang yang mudah menerima sesuatu dengan seketika. Apalagi hal itu
tidak sesuai denganku, tidak sesuai dengan pemahamanku. Apakah kalian bisa
mengerti. Aku yakin kalian bisa. Tapi apakah aku yang tidak bisa mengerti
dengan kalian.
Sungguh bodohnya aku.
Aku layaknya boneka yang dipermainkan oleh kalian.
Aku adalah aku, kalian
siapapu tidak berhak dan tidak bisa mengatur kehidupanku, kecuali Dia dan
mereka. Iya, kecuali mereka, mereka orang yang aku sayangi, orang yang aku
cintai. Mereka adalah keluargaku, Ayah, Ibu, kakak laki-lakiku dan juga adikku
yang cantik, yang selalu berusaha ku jaga.
Walaupun sekarang aku
sudah jatuh, merasakan sakitnya tempat ku mendarat. Tapi aku senang, itu sudah
terjadi dan akan selalu kukenang, sebagai pengalaman terbaikku. Sebagai
pembelajaran terindahku untuk esok yang lebih baik lagi.
Saat ini yang ingin
kulakukan adalah berusaha menyimpan kenangan indahku dengan rapat. Berusaha
menguatkan tekatku, berusaha kebal dan berusaha untuk menggapai banyak hal,
walau harus mengorbankan hal-hal indahku. Tapi itulah yang aku lakukan, entah
kalian akan menganggapku seperti apa. Mungkin itu sesuai denganku ataupun
tidak, itu tidaklah penting dan berarti bagiku saat ini. Yang berarti bagiku
saat ini adalah keluargaku. KELUARGAKU.
Pengorbanan itu memang
berat dan menyakitkan, tapi walau berat dan menyakitkan. Aku merelakannya. Aku
rela melepaskannya, aku rela menjadi pecundang, aku rela kalian anggap aku
bodoh, aku rela kalian aku anggap keras kepala, idealis, ataupun kalian anggap
aku egois. Toh label yang kalian berikan sudah tak berguna bagiku. Lebih baik
"Anggap Saja Aku Sudah Mati"

Asia's No Limit Online Casinos 2021 - 엑등 クイーンカジノ クイーンカジノ rb88 rb88 우리카지노 우리카지노 220Bet 360 Slot Machine Game for Real Money at Online Casinos
BalasHapus