Resah diriku karenamu...
Tambah resah diriku karenaMU...
Aku bingung, aku takut,
tapi apa yang aku perbuat,
sungguh aku ini memang bodoh,
Aku melarang, tapi aku yang melakukan...
Sabtu, 22 Desember 2012
Jumat, 12 Oktober 2012
Aku Benci Dapat Tugas
Hal yang paling menyenangkan dalam menuntut ilmu adalah banyak hal. Aku bersyukur bisa kuliah menuntut ilmu dan mendapat pengalaman yang sangat berharga dan pengalaman menjadi orang pandai dan sukses.
Tapi satu hal yang tidak aku suka sama sekali adalah mendpat tugas
Tapi satu hal yang tidak aku suka sama sekali adalah mendpat tugas
Senin, 24 September 2012
Sihir Apakah itu...?
Sihir nyata, adalah sihir
yang... (kalian pasti sudah tahu jawabannya)
Hampir semua, bahkan mendekati semua orang suka hal ini, apakah mereka dari
golongan kaum Hawa maupun dari golongan kaum Adam...
Sungguh luar biasa sihir ini...
Bahkan semua orang dapat melakukan sihir ini...
termasuk para pejuangpun, aktivis melakukan
sihir ini...Hati- hatilah kawan akan sihir ini...
Batasilah sihir ini jangan sampai memenuhi isi otak dan hatimu...
Kamis, 07 Juni 2012
Teknik Dasar Komunikasi dalam Konseling
Opening
( Pembukaan )
Pengertian
Opening adalah ketrampilan / teknik
untuk membuka / memulai komunikasi dan hubungan konseling. Contohnya menyambut
kehadiran klien dan membicarakan topik netral seperti menjwab salam,
mempersilakan duduk dll.
Tujuan
-
Untuk memberi penghargaan dan membangun
hubungan baik dengan konseli.
Prinsip-prinsip
:
A.
Penyambutan
-
Non verbal : Sebuah komunikasi dengan
bahasa isyarat seperti : menghentikan aktifitas, penjemputan, menjabat tangan,
senyum, isyarat mempersilahkan masuk, menutup pintu, isyarat mempersilahkan
duduk, dsb.
-
Verbal : Sebuah komunikasi dengan bahasa
lisan, seperti : member salam, menjawab salam, menyebut nama, pujian atas
kedatangan konseli,menanyakan kabar dsb.
Kesemuanya
bertujuan untuk :
1. Menciptakan
rasa aman konseli.
2.
Membentuk kesan dan persepsi yang
positif pada konseli.
3.
Mengkomunikasikan kondisi fasilitas
konselor.
B.
Inisiasi
pembicaraan
-
Topic netral: Sebuah topic yang tidak
langsung melakukan proses konseling, atau topic umtuk mengawali pembicaraan.
Misalnya : Hobi, peristiwa hangat, kondisi kesehatan dsb
Contoh : “ Oh ya bagaimana keadaan nak
….. dan keluarga dirumah saat ini,
sehatkan?”
-
Kegiatan dalam kaitannya dengan
kedatangan konseli di ruang konseling.
Contoh : “Apakah saat ini nak ….. tidak
sibuk?”
Kesemuanya
dilakukan untuk :
1. Menghindari
konselor dari banyak bicara.
2.
Meredakan kecemasan awal konseli.
C.
Transisi
pembicaraan
-
Alih topic
-
Informasi harapan keberhasilan
-
Meminta kesediaannta untuk direkam
-
Pengembangan topic
D.
Hal
yang harus dihindari :
-
Respon berlebihan
-
Kepura-puraan
-
Topic netral terlalu panjang
sekurang-kurangnya 5 menit
-
Konselor tidak banyak bicara
-
Konseli menunggu dan terabaikan
Acceptance
( Penerimaan )
Pengertian
Acceptance ( penerimaan ) adalah teknik
yang digunakan konselor untuk menunjukan minat dan pemahaman terhadap hal-hal
yang dikemukakan konseli. Kehadiran, bahwa konselor ada dan masih bersama
konseli agar konseli merasa ada dan diperhatikan. Contohnya anggukan kepala
dll.
Tujuan :
-
Untuk menyatakan bahwa konselor hadir
bersama konseli
-
Agar konseli merasa diperhatikan
-
Agar konseli memperoleh balikan atas apa
yang dikatakan didengar dan difahami.
Prinsip :
-
Menghindari stereotip
-
Bukan sekedar respon sekenanya melainkan
konselor menangkap betul aspek yang difahami
-
Penerimaan tidak berarti persetujuan
atau dukungan
Bentuk :
·
Verbal penerimaan dengan kata-kata
-
Kata-kata pendek seperti : ya, he-em,
baik (dalam arti mendengarkan)
-
Frasa atau kalimat, seperti : Saya paham,
saya memahami apa yang kamu kemukakan, saya dapat merasakan apa yang anda
rasakan, saya memahami apa yang anda rasakan, dsb.
·
Non verbal, penerimaan dengan bahasa
isyarat, seperti : menganggukan kepala, isyarat tangan, kontak mata, elspresi
wajah, postur dan gesture.
Contoh
:
Konseli
: “ Bapak
saya bingung, atas apa yang dilakukan Doni akhir-akhir ini, sepertinya dia
menjauhi saya…”
Konselor
: “ Bapak, mengerti apa yang kamu bingungkan…..”
Restatement ( Mengulang Pernyataan)
Pengertian
Restatement
adalah respon atau teknik menanggapi pembicaraan dengan mengulang atau
menyatakan kembali sebagian kata-kata yang penting yang telah diucapkan
pembicara.
Tujuan
·
Konseli memperoleh balikan bahwa
konselor menangkap atau mendengarkan sesuai yang konseli ucapkan.
·
Mengarahkan pembicaraan lebih lanjut
sesuai yang diinginkan konselor.
Prinsip
·
Pengulangan apa adanya, tanpa mengubah
kata-kata kecuali kata ganti pelaku.
·
Memilih pesan yang terpenting diantara
sejumlah pesan yang disampaikan konseli.
·
Menggunakan nada atau irama serta
intonasi yang berbeda.
Jenis-jenis
·
Pengulangan kata atau frase, misalnya:
percuma, tidak bisa dimaafkan.
·
Pengulangan kalimat, misalnya: kamu
tidak mau menyapanya lagi.
Komponen
·
Aksen atau penekanan: mengulangi
kalimat/kata dengan nada atau tekanan yang berbeda.
·
Parafrase: pengulangan dengan kata-kata
dan nada yang sama tetapi didahului penegasan konselor, seperti: “ anda baru
mengatakan………; yang saya dengar anda tadi mengatakan……..”
Contoh
Konseli ; ” Saya sudah berkali-kali
bilang pada ayah, jika yang dilakukannya adalah perbuatan
yang
salah...”
Konselor: “ Perbuatan yang salah........”
Arah pembicaraan
Agar
konseli bercerita lebih lanjut tentang sikap ayahnya yang salah menurut konseli.
Reflection Of Feeling
(Pemantulan Perasaan)
Pengertian
Reflection
Of Feeling adalah pola respon atau teknik menanggapi
pembicaraan konseli dengan memantulkan perasaan/sikap yang terkandung dalam
pernyataan konseli.
Tujuan
- Memperoleh
kejelasan tentang peranan konseli atas suatu peristiwa.
- Konseli
merasa dimengerti perasaanya.
- Mengarahkan
pembicaraan yang lebih dalam, terkait perasaan konseli.
Unsur
respon
- Kata-kata
pemandu yang bersifat dugaan: misalnya sepertnya, nada-nadanya, tampaknya,
rupa-rupanya, agaknya dsb.
- Pernyataan
atas jenis perasaan tertentu yang dialami konseli.
Prinsip
aplikasi
- Hindari
stereotip
- Ketepatan
waktu menyatakan (timing)
- Kaya
akan perbendaharaan istilah perasaan
- Ketepatan
penamaan atau pemilihan jenis perasaan.
contoh
Konseli : “ Saya bingung mau apa, dia
begitu senang jika saya mengalami kesusahan, bahkan dia
mentertawakan
saya habis-habisan, bahkan pernah dia membuat saya malu di depan
teman
satu kelas.”
Konselor : “Mendengar cerita anda,
sepertinya anda sangat jengkel sekali pada dia…”
Arah pembicaraan :
agar konseli mengungkap perasaan lebih
jauh mengenai kejengkelan yang dialami.
Clarification
(penegasan pernyataan)
Pengertian
Klarifikasi adalah teknik yang digunakan
untuk memperjelas, menjernihkan, mengungkap kembali isi pernyataan konseli yang
dianggap kurang jelas, samar-samar, meragukan oleh konselor oleh konselor
dengan menggunkan kata-kata baru.
Tujuan
a. Konseli
memperoleh balikan kalau konselor memahami konseli secara penuh.
b. Memperjelas
isi pesan konseli dengan persepsi konselor.
c. Konseli
terbantu mendiskriminasikan perbuatan/situasi yang dihadapi konseli.
d. Konselor
mengarahkan pembicaraan lebih lanjut ke arah uraian situasi ataupun perbuatan
yang lebih luas dan dalam dari pernyataan konseli.
Prinsip aplikasi
§ Menghindari
sterotip.
§ Menggunakan
kata pemandu atau modalita klarifikasi.
§ Kaya
akan perbendaharaan istilah.
§ Mengungkapkan
inti yang merupakan perasaan atau sari pati dari isi pembicaraan.
§ Menggunakan
kata-kata yang baru dan segar.
Contoh 1
Pernyataan
konseli
Saya
harus bagaimana, “Ibu menginginkan saya putus dengan pacar saya dan mencari
pengganti yang sama-sama anak kuliah, Bapak menghendaki saya untuk bertunangan
dengan putra sahabat dekatnya sewaktu SMA, saya sendiri lebih suka cowok
pilihanku.
Respon
konselor.
Pada
dasarnya anda berada dipersimpangan jalan.
Arah
pembicaraan
Agar
konseli mengungkap lebih jauh aspek-aspek konflik pilihanya.
Contoh 2
Pernyataan
Konseli
“Saya harus menjadi seperti apa, setiap
langkah yang saya lakukan selalu saja tidak disetujui ibu dan ayah, setiap saya
mau ini, harus begitu, saya benar-benar lelah harus mengikuti apa yang mereka
inginkan, seakan-akan aku ini seperti boneka saja”
Respon
konselor
“ Pada dasarnya anda kurang suka atas
sikap orang tua anda, yang suka mengatur-atur anda”
Structuringn (penataan,
pembatasan)
Pengertian
Structuringn adalah suatu teknik
penginformasian atau penyepakatan akan
perlunya dan diikutinya batasan-batasan tertentu dalam proses konseling, supaya
berjalan sesuai dengan prinsip-prinsip layanan yang profesional.
Tujuan
·
Konseli memperoleh orientasi yang tepat
terkait dengan proses konseling yang dia jalani.
·
Memperoleh kesamaan persepsi dan harapan
yang realistik dalam proses konseling.
·
Memperoleh kepastian bersama apakah
konseli mau melanjutkan atau menghentikan proses konseling.
·
Membangun suatu kesepakatan mengenai
pola interaksi, tindakan, perbuatan, waktu, pencapaian, jaminaan, dan
konsekuensi pernyyanan.
Prinsip-prinsip
1. Dilakukan
pada sesi awal pertemuan.
2. Diberikan
bila keadaannya membutuhkan.
Jenis penstrukturan
·
Batasan peran ( role limit)→ menjelaskan peran konselor dalam member layanan
konseling pada konseli agar tidak terjadi salah persepsi.
Contoh : “Saudara, dalam melakukan proses konseling
ini saya butuh kejujuran saudara. Percayalah, Saya benar-benar akan menjaga
rahasia Anda. Saya tidak dapat membantu Anda apabila Anda hanya ndiam saja.”
·
Batasan layanan ( service limit)→ menjelaskan jenis dan sifat dari layanan
konselor.
·
Batasan topik (topic limit)→ mengajak memilih dan fokus pada masalah diantara
sejumlah masalah yang diuraikan.
Contoh : “setelah saya mendengar ceritamu tadi saya
menangkap banyak masalah yang Anda hadapi, coba kemukakan masalah apa saja yang
Anda hadapi?”
Jika Konselor merasa ada masalah yang belum
dikemukakan klien, maka konselor bertanya dengan mengatakan, “Kelihatannya bukan
Cuma itu saja?”, jika klien benar-benar tidak tahu baru konselor yang
meberitahukannya.
·
Batasan tindakan (action limit)→ meminta konseli untuk menenagkan diri dan mengendalikan
tindakanya agar tidak mengarah pada perusakan dan perbuatan negatif.
Contoh : Ada dua orang klien yang sedang bertengkar,
lalu mereka memutuskan untuk ke ruang konseling. Dalam keadaan tersebut
konselor sebaiknya menyuruh klien duduk, mencarikan minum, diam sejenak dengan
duduk dipisahkan, lalu dimulailah proses konseling apabila klien sudah dalam
keadaan tenang. Sulit bagi konselor untuk memaksakan proses konseling
berlangsung dalam kondisi yang tidak tepat.
·
Bataan waktum ( time limit)→ menyepakati berapa lama pertemuan. Biasanya setiap
pertemuan sekitar 30-60 menit. Batasan waktu perlu agar konseli mau
memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Time
limit dapat digunakan diawal dan diakhir konseling dengan verbal ataupun non
verbal.
Contohnya :
verbal:
“Tampaknya kita sudah lama sekali melakukan pembicaraan ini, apa yang bisa saudara simpulkan diakhir pertemuan kita hari ini?”
verbal:
“Tampaknya kita sudah lama sekali melakukan pembicaraan ini, apa yang bisa saudara simpulkan diakhir pertemuan kita hari ini?”
Non verbal : dengan melihat jam tangan, jam dinding,
menata buku, melakukan gerakan-gerakan yang tidak biasa, mengangkat kedua
tangan seperti pada saat bangun tidur,
·
Batasan tujuan (goal limit)→ menspesifikasikan tujuan yang yang ingin dicapai
dalam proses konseling.
·
Batasan jaminan kerahasiaan (confidentiality limit)→ meyakinkan
konseli bahwa rahasianya terjaga.
Lead
/ Questioning
Pengertian
Lead adalah ungkapan verbal konselor yang secara
khusus berniat mengarahkan perha-tian dan pembicaraan konseli pada alur pembicaraan
yang dikehendaki menurut proses dan isi bahasan konseling. Lazim menggunakan
kata-kata pertanyaan atau permintaan, maka sering disebut teknik bertanya (questioning).
Tujuan
a. Tergugahnya
konseli memulai diskusi isu penting,
b.
Terhindarinya konseli dari pembeberan
detail yang kurang relevan.
c.
Ditemukanya gagasan pembicaraan tertentu
oleh konseli.
d. Terfokusnya
pembicaraan menurut proses dan alur konseling.
Jenis
a.
Pengarahan (lead) tidak langsung atau pengarahan umum (general).
b. Pengarahan
(lead) tidak langsung atau pengarahan
khusus (spesifik).
Komponen dan variasi
a. Kata
permintaan, himbauan, atau kata tanya.
b.
Kata petunjuk bidang isu yang diharapkan
(umum dan khusus).
c.
Kata penjelasan atau kata keterangan.
Bentuk khusus
a. Pengarahan
tidak langsung (lead umum)→ merupakan
pernyataan himbauan konselor agar konseli dalam responya terfokus pada topik
konseling.
Contoh: “Saudara bisa
menceritakan asal-muasal kejadian yang menimpa anda dan teman anda kenapa bisa
sampai berkelahi…”
b.
Pengarahan langsung (lead khusus)→merupakan pertanyaan
konselor kepada konseli secara terbuka, menggali, melacak, memotivasi konseli
untuk berkomunikasi.
Pertanyaan-pertanyaan
yang bersifat umum dan terbuka, tidak menuntut jawanan ya atau tidak lebih
bagus dan efektif digunakan untuk→
a. Memulai
interview
b. Mendorong
konseli menjajagi atau menemukan informasi.
c. Mengungkapkan
contoh tingka laku spesifik, perasaan, atau pikiran konseli.
d. Memotivasi
konseli untuk berkomunikasi dengan baik.
Contoh : “ Apa
yang anda lakukan setelah lulus sekolah? “
Pertanyaan-pertanyaan yang bersifat
khusus dan tertutup diperlukan untuk
1. Mentempitkan topic diskusi
2. mendapatkan
informasi spesifik
3. Mengenali
kadar suatu masalah
4. Mencegah
melanturnya pembicaraan konseli
Contoh 1
a.
Konseli : “Saya mempunyai masalah dengan
teman, bapak”
b.
Konselor; “Dapatkah saudara menceritakan
bagaimana masalah saudara?
c.
Arah pembicaraan→ agar konseli bercerita
tentang masalahnya pada bagian mana saja yang menurut dia penting untuk
disampaikan
Contoh
2
a. Konseli
: “ Saya benci dengan perbuatan pacar saya, Ibu…”
b. Konselor:
” Perbuatan apa yang kamu benci dari pacarmu?”
c. Arah
pembicaraan→ meminta konseli secara khusus bercerita tentang perbuatan pacarnya
yang dibenci.
Reassurance
Pengertian
Reassurance merupakan listening response, atau respon yang diungkapkan oleh konselor pada saat klien berbicara/bercerita. Melalui keterampilan ini, konselor mendukung apa yang dikatakan oleh klien atau dengan bahasa lain konselor memberikan reinforcement (penguatan) pada diri klien.
Reassurance merupakan listening response, atau respon yang diungkapkan oleh konselor pada saat klien berbicara/bercerita. Melalui keterampilan ini, konselor mendukung apa yang dikatakan oleh klien atau dengan bahasa lain konselor memberikan reinforcement (penguatan) pada diri klien.
Prinsip
dasar
1.
Pemberian
penghargaan atas unjuk kerja konseli ke arah perubahan positif
2.
Perubahan
kebiasaan/ perilaku baru/ lebih baik.
Tujuan
1.
Membangkitkan
konseli ke arah rencana yang lebih baik dan positif
2. Menguatkan perilaku baru yamh positif.
3. Meredakan keraguan, kecemasan dan ketegangan
konseli.
4.
Membebaskan
konseli dari emosi yang berkepanjangan.
Jenis
Reassurance
dibagi menjadi 3, yaitu :
a.
Prediction Reassurance
Ketika klien menyatakan
bahwa ia akan melakukan suatu rencana tindakan yang positif, maka konselor
dapat mendukung pernyataan klien tersebut atau memberikan suatu keyakinan bahwa
ia bisa melakukan tindakan tersebut.
Contoh : “Bagus, saya
yakin Anda sukses.”, “Anda pasti bisa”, “Itu rencana yang bagus sekali, Anda
pasti bisa melakukannya.”
b.
Postdiction Reassurance
Semula klien merasa
takut untuk menghadapi sesuatu, tetapi dengan keberaniannya ternyata ia
berhasil juga menyelesaikan tugas yang selama ini dia takutkan. Keterampilan ini
memberikan penguatan pada diri klien saat ini, yang semula ragu atas
ketidakyakinan dirinya untuk mengulangi melakukan sesuatu hal, yang sebenarnya
di masa lalu ia pernah berhasil melakukannya.
Contoh : “Tuh kan,
buktinya Anda bisa melakukannya, Coba Anda lakukan sekali lagi. Anda pasti
bisa.”
c.
Factual Reassurance
Pada saat klien
mengalami musibah, misalnya, Konselor dapat membantu meringankan beban klien
dengan memberikan dukungan factual bahwa apa yang dialami klien juga dapat
dialami oleh orang lain dan merasakan seperti apa yang dirasakan klien saat
ini.
Contoh : “Saya dapat memahami apa yang Anda rasakan saat ini, sebenarnya Saya juga pernah mengalami apa yang Anda alami itu. Kuatkan diri Anda, Anda pasti bisa melaluinya.”
Contoh : “Saya dapat memahami apa yang Anda rasakan saat ini, sebenarnya Saya juga pernah mengalami apa yang Anda alami itu. Kuatkan diri Anda, Anda pasti bisa melaluinya.”
Silent / Diam
Pengertian
Silent/
Diam atau membiarkan keheningan berlangsung beberapa saat yang diciptakan
secara sengaja dengan sejumlah tujuan tertentu yang disadari konselor.
Tujuan
a. Tercipta
peluang konseli memutuskan sendiri bagaimana memulai dan kemudian memikirkan
apa yang akan dibicarakan.
b. Teredakanya
sejumlah perasaan atau emosi negativ
konseli atas dampak peristiwa yang baru diungkapkanya.
c. Terklarifikasikanya
dalam pemikiran dan perasaan konseli sejumlah informasi yang memungkinkan
konseli memperoleh insight.
Jenis
a. Jeda,
istirahat (pause)
b. Kehabisan
isu atau bahan bicara (ending)
c.
Selepas pencetusan perasaan
mendalam, menyatakan (deep and painful;
emotion).
d.
Antisipasi pernyataan (respon) dari
konselor.Enggan (reluctant) atau
menolak/bertahan (resistant).
Bentuk
khusus
1. Jeda,
Istirahat
kebiasaan konseli dalam berbicara cepat,
terburu-buru, kemudian berhenti. Respon konselor dengan keheningan beberapa
detik saja.
Contoh
Konseli: “ Ketika saya bertemu dengan Dani, gadis
yang saya sukai, dia sungguh anggun… hingga membuat saya kekimpukan, muka ku
merah padam ……(dst)
Setelah bertemu dia tadi, saya selalu saja
terbayang-bayang dia, naik di mimpi ataupun dimana saja… bahkan pernah karena
melamun saya terjegur ke selokan… tidak hanya itu pak, saya akhir-akhir ini
sering tidak fikus pada pekerjaan saya. dst
Contoh
·
Konseli: begitulah saya akhir-akhir ini
·
Konselor “ hem…hem…hem ….ya, ya,
·
Konseli: … (diam)
·
Konselor: …(diam Keheningan 3-5 detik)
Banyak cerita yang anda utarakan pada bapak, bapak
senang mendengarnya.
2. Kehabisan
isu atau bahan bicara
Ketika konselor menghayati konseli kehabisan isu.
Konselor memberi suasana keheningan kemudian merespon dengan klarifikasi atau
pengarahan (lead).
Contoh
·
Konseli : “… contoh diatas….
·
Konselor: “ hem hem .. .. "
·
Konseli: “ yah begitulah Pak…” (diam)
·
Konselor: “… (keheningan 2-3 detik)
Intinya, kurang fokusnya anda karena anda selalu
teringan dia….? (clarification).
3.
Selepas pengungkapan mendalam dan
menyakitkan. Konseli menarik nafas dalam-dalam, kadang-kadang menunduk, bahkan
menangis. Dalam situasi ini konselor merespon dengan keheningan cukup lama
sampai keadaan dirasakan mereda, ketika konseli mengangkat kepala maka konselor
merespon dengan reflection of feeling
atau factural reassurance.
Contoh
· Konseli:
“ ibu bisa bayangkan, semenjak saya kehilangan pacar saya, saya sangat kesepian
sekali, berminggu- minggu saya berusaha melupakan kesedihan ini ( menangis), tapi
apa bu di tengah kesepian ini, teman
akrab pacarku malah mengajak saya pacaran dengan dia( diam, merunduk).
· Konselor:
“……(keheningan sampai konseli menyeka air mata atau mengangkat kepala). Anda
sangat kehilangan rupanya”. (refleksi)
4.
Antisipasi pernyataan konseli diam
dengan maksud menunggu dan mengha-rapkan jawaban tertentu dari konselor, entah
komentar atau persetujuan atas ungkapan sikap atau keputasanya, ditandai
sebelumnya uraian pendapat, persepsi, sikap, keputusan konseli terhadap
sesuatu, kemudian diam sambil menatap konselor. Konselor tidak perlu menunggu
terlalu lama kemudian merespon dengan
teknik penerimaan, restatement,atau klarifikasi.
contoh
·
Konseli: “ saya pikir apa yang dilakukan
dia (teman pacarnya) sungguh keterlaluan, dia tidak setia kawan, baru saja dia
meningga, dia berbuat seperti itu”.
·
Konselor: “ saya memahami apa yang anda
rasakan”, (acceptance)
Rejection
Pengertian
Rejection merupakan teknik konseling
yang dilakukan konselor untuk mencegah perbuatan atau tindakan yang menurutnya
kurang atau tidak pantas dan merugikan diri konseli sendiri atau orang lain
jika dilakukan.
Tujuan
1. Menghindarkan
diri konseli dari perbuatan yang merugikan diri sendiri dan orang lain.
2. Mendorong
konseli untuk melakukan tindakan yang lebih bijak dan baik.
3. Membuat
konseli agar lebih dewasa mengambil keputusan.
4. Membuka
mata dan pikiran konseli atas tindakan yang akan diambil.
Komponen dan aturan
a. Menggunakan
kata-kata yang mengacu pada nilai dan norma- norma baik yang berlaku.
b. Menggunakan
inti larangan atau alternatife tindakan lain.
c. Melakukan
rejection harus disertai dengan alasan yang rasional.
d. Jangan
sampai menyinggung atau menyakiti hati dan perasaan konseli.
Jenis
1. Larangan
Langsung
Merupakan
suatu larangan yang secara langsung ditujukan kepada konseli oleh konselor yang
langsung pada pokok persoalan atau masalah yang mana bila konseli mempunyai rencana
yang jelas-jelas merugikan dirinya dan orang lain.
Kata acuannya : Jangan,
tidak dsb.
Contoh :
Konseli : Saya sudah
lelah pak jika terus hidup seperti ini, rasanya saya ingin mati saja pak…”
Konselor : Apa yang
kamu katakan, jangan berbuat nekat,apalagi sampai mengakhiri hidup…”
2. Larangan
Tak Langsung
Merupakan
suatu larangan yang secara tidak langsung ditujukan kepada konseli oleh
konselor, jika konselor menduga dan menafsirkan perbuatan konseli itu
merugikan. Larangan ini dilakukan dengan dua cara yakni spontan dan penundaan.
Spontan maksudnya adalah larangan yang diberikan tanpa menunggu konseli selesai
memberikan penjelasan. Sedang penundaan ya lrangan yang diberikan setelah
konseli selesai memberikan penjelasan.
Contoh ;
Konseli : “ Ingin sekali saya mencontek, agar dapat
nilai yang bagus….”
Konseli : “ Menurut anda apakah perbuatan seperti
itu dibenarkan…?”
Advice
Pengertian
Advice merupakan teknik konseling yang
dilakukan oleh konselor untuk memberikan nasihat kepada konseli dengan
mengisyaratkan ada suatu pilihan, rencana, atau peluang yang baik bagi konseli.
Tujuan
1. Memberikan
nasihat kepada konseli agar bertindak lebih baik
2. Memberikan
solusi atau pemecahan masalah
Komponen dan Variasi
1. Menggunakan
kata ganti orang
2. Mempertimbangakan
kelebihan atau kelemahan nasihat yang diberikan.
3. Member
pilihan atau alternatif.
4. Memberikan
nasihat dengan anjuran, atau prediksi ke depannya.
Jenis
a.
Nasihat Langsung
Nasihat Langsung diberikan konselor
apabila, konseli ragu akan pilihannya, tetapi konseli menunjukan suatu
perbuatan yang mendukung.
Contoh
:
Konseli :” Saya harus memilih mana Pak, antara pilihan
Ibu atau pilihan saya?
Konselor :
“ Menurut bapak, sebaiknya saudara menerima pilihan Ibu saudara, mungkin ibu
saudara lebih tahu mana yang lebih baik
untuk saudara”.
b.
Nasihat yang bersifat persuasif/
dorongan
Konselor
memberikan gambaran akan kekurangan dan kelebihan sebelum memberi saran, jika
dirasa cukup maka akan diberikan nasihat atau saran kepada konseli.
Contoh :
Konselor : “ Dani memang
banyak keuntungan yang anda peroleh jika anda bekerja, anda bisa membantu
keuangan orang tua,bisa hidup mandiri, tapi dari segi lain mungkin kuliah Dani
akan terganggu.”
c.
Nasihat yang bersifat pertimbangan atau
penjelasan
Suatu nasihat yang
diberikan dengan mempertimbangkan kelemahan dan keunggulan yang disertai
alternatif- alternatif dalam setiap pemberian informasi.
Contoh :
Konselor : “ Jika anda
menjadi pemain sepak bola,mungkin anda bisa menjadi orang yang terkenal bahkan
lebih kaya dari persiden kita saat ini, tapi resiko yang harus anda hadapi
adalah cedera yang sering menghinggapi pemain sepakbola itu sendiri. Keputusan
anda ingin menjadi seorang desainer lebih ringan kerjanya, hanya saja yang
namanya desainer haruslah produktif, penuh inovasi agar hasil desain yang
dihasilkan tetap bisa bersaing.
Intrepretation
Pengertian
Pernyataan
konselor yang mengkomunikasikan penjelasan makna, tafsiran makna atau dugaan pesan
atau sikap dan perilaku konseli.
Tujuan
1. Mengembangkan
hubungan yang baiok melalui pengkumunikasian yang baik dan menyenangkan
konseli.
2. Mengenali
hubungan sebab akibat antara pesan dsan perilaku eksplisit dan implisit
3. Membantu
konseli mengkaji tingkah laku dari sudut konselor.
4. Memotivasi
adar konseli mengubvah pikiran atau perilaku yang tiudak efektif.
Komponen dan Variasi
a. Kata
acuan, dasar intrepestasi
b. Kata
modalita atau kata tanya
c. Isi
tafsiran konselor yang baik dan menyenangkan atau tidak menyinggung konseli.
Jenis
A. Pengecekan
informasi
Teknik yang dipakai jika terjadi
kegagalan dalam menangkap pesan eksplisit arti konseli.
Contoh :
Konseli :” Bapak, saya bingung, dengan
keadaan saya, saya berusaha menghemat keuangan, tapi setiap saya melihat
ini…itu…saya jadi ingin memilikinya, ya jadinya saya membellinya…jadinya saya itu hampir setiap
bulan kehabisan uang…”
Konselor : “ Dari keterangan barusan,
apakah anda bermaksud mengatakan kalau anda itu tidak bias mengatur keuangan
anda sendiri”.
B. Interpetasi
tunggal
Teknik untuk mengklarifikasi makna
tunggal terhadap satu pesan atau ungkapan konseli.
Contoh :
Konseli : “Bapak, saya bingung, setiap saya
berusaha menghemat keuangan, tapi tidak tahu
uang saya selalu habis, dan saya tidak tahu uangnya saya gunakan untuk
apa… jadinya saya itu hampir setiap bulan kehabisan uang…”
Konselor : “ Dari uaraian barusan,anda
bermaksud mengatakan, kalau anda itu bermasalah dengan manajemen keuangan”.
C. Intrepetasi
ganda
Teknik untuk mengklarifikasi makna ganda
terhadap pesan atau ungkapan konseli.
Contoh :
Konseli :” Bapak, saya bingung, setiap
saya berusaha menghemat keuangan, tapi tidak tahu uang saya selalu habis, dan saya tidak tahu
uangnya saya gunakan untuk apa… tapi yang saya ingat teman-teman yang membuat
saya menjadi seperti ini…. jadinya saya itu hampir setiap bulan kehabisan
uang…”
Konselor :” Dari keterangan saudara, anda mengatakan
pengeluaran boros itu selain karena anda itu tidak bias memanajemen kuangan
juga karena teman-teman anda”.
Konfrontation
Pengertian
Konfrontasi (Confrontation), teknik
komunikasi yang menantang konseli, karena adanya ketidaksesuaian yang terlihat
dalam pernyataan dan tingkah laku konseli, karena terjadi inkonsistensi antara
perkataan dan perbuatan, ide awal dengan ide berikutnya. Beberapa hal yang
perlu diperhatikan dalam konfrontasi:
1. Adanya
kesenjangan yang diungkapkan konseli.
2. Konselor telah memahami masalah konseli secara
mendalam
3. Telah
terbinanya keakraban antara konselor dan
konseli secara mendalam
4. Bertujuan
meredakan ketegangan yang ada dalam batin konseli
5. Mendorong
konseli mengadakan penelitian secara jujur
6. Meningkatkan
potensi konseli
7. Membawa
konseli pada kesadaran adanya diskrepansi, konflik atau kontradiksi dalam
dirinya
8. Meningkatkan
potensi konseli
9. Membawa
konseli pada kesadaran adanya diskrepansi, konflik atau kontradiksi dalam
dirinya
10. Disampaikan
dengan bahasa yang lugas; ringkas, tepat, jelas mudah dipahami konseli.
11. Tidak
menyalahkan atau menilai, disertai perilaku attending, disampaikan pada waktu
yang tepat.
Tujuan
-
Membantu konseli menjadi lebih baik
menyadari kesenjangan atau ketidakselarasan di dalam pemikiran, perasaan dan
perilaku.
-
Membuat konseli agar memiliki cara
pandang yang baru yang mengarah pada tingkah laku baru.
Komponen dan variasi
A. Kata
penggugah perhatian, penyebutan nama konseli atau kata penggugah lainnya.
B. Isi
atau pesan-pesan yang” dipertentangkan” atau dihubungkan.
C. Kata
atau kalimat tanya.
Contoh dari 3 komponen di atas :
“ Soni (a), anda tadi mengatakan anda senang sekali
mendapatkan pemberian ini, tapi muka anda pucat(b), apakah ini mengatakan kalau
anda kurang senang tas pemberian hadiah tersebut.
Summarization
Pengertian
Konselor/klien membuat simpulan
dalam proses konseling.
Tujuan
1. Memadukan
pesan-pesan konseli dalam proses konseling tersebut.
2. Mengidentifikasi
tema yang muncul setelah terungkapnya sejumlah pesan.
3. Mencegah
pembicaraan konseli yang bertele-tele.
4. Merangkum
hasi kemajuan konseli yang telah dicapai.
Komponen
a. Kata
penggugah perhatian : sampai detik ini, dari awal samapi sekarang, dsb
b. Kata
isyarat, kata kunci rangkuman : jadi, pada akhirnya, dsb
c. Paduan
isu, topik atau isi rangkuman : ....hal penting...., inti pembicaraan kita tadi....,
dsb
Jenis
a. Summary
bagian.
Simpulan tentang suatu data/sekelompok
data dalam suatu proses konseling yang dibuat dalam rentang waktu atau durasi
proses konseling untuk memperjelas poin pembicaraan.
Contoh
: “sementara ini…,” “sejauh ini…”
Summary bagian
ini ada 2 yaitu :
1.
Summary bagian secara langsung.
Dilakukan atas prakarsa konselor itu sendiri berdasarkan
kejelasan masalah.
Contoh : “
Dari perbincangan yang masih sekitar 5 menit ini nampaknya anda selain
bermasalah
dengan diri sendiri anda juga bermasalah dengan teman-teman di sekolah”.
2.
Summary bagian secara tidak langsung.
Dilakukan atas sebagian prakarsa konselor , dan kemudian
ditawarkan pada konseli untuk melengkapi/ menambahkan.
Contoh:
“ Di awal pertemuan kita ini, anda mempunyai banyak masalah diantaranya dengan
diri sendiri, teman selain itu mungkin bias disebutkan ……..”.
a.
Summary akhir.
Simpulan akhir untuk mengakhiri proses
konseling.
Contoh
1
“Kita
sudah berbicara banyak sejauh ini, apa yang bisa Anda simpulkan dari pertemuan
kali ini?”
“Kalau Anda bisa menyimpulkan, bagaimana kesimpulannya?”
“Kalau Anda bisa menyimpulkan, bagaimana kesimpulannya?”
Contoh
2
“
Pada akhirnya kita banyak menyepakati permasalahan-permasa;ahan yang anda almi,
mulai dari masalh belajar, keuangan, bahkan sosialisasi anda juga bermaslah”.
Termination
Pengertian
Respon
konselor untuk mengakhiri proses konseling untuk dilanjutkan lagi atau memang
proses konseling benar-benar telah selesai. Maksud selesai menurut saya yakni
proses konseling yang sudah membuat konseli bisa memahami diri dan bagaimana
memikirkan tindakan selanjutnya yang lebih baik dan berguna bagi dirinya.s
Tujuan
1. Mencapai
pemahaman antara konselor dan konseli mengenai apa yang dicapai dalam proses
konseling
2. Mengkomunikasikan
keperluan penyesuaian terhadap pengambilan tanggung jawab seusai konseling.
3. Memelihara
persepsi pantas konseli tentang penerimaan dan pemahaman konselor.
4. Memiliki
gambaran “Peta Kognitif” jalannya konseling.
Jenis
a. Pengakhiran
Langsung/ Murni
Pengakhiran proses konseling, secara
verbal, singkat dan tegas, yang mengandalkan bahasa pragmatik.
Contoh : “ Bapak rasa konseling kita
sudah selesai, mungkin bisa kita akhiri sekarang”.
b. Pengakhiran
Tak Langsung
Pengakhiran
proses konseling ini ada 2 yakni Verbal dan Non verbal
Verbal
: Melalui ucapan konselor
Contoh
: “ Mendengar keinginan saudara tadi, alangkah baiknya jika dipikirkan dulu
secara matang dengan orang tua anda dirumah, mungkin nada bisa melakukannya
saat ini juga…”
Non
verbal : dengan melihat jam dinding ata jam tangan dengan berkali-kali.
Daftar Rujukan
Fauzan,
Lutfi dkk. 2008. Teknik-teknik Komunikasi Untuk Konselor. UM :
UPTBK
Gunung Mulia
Diakses 1 Desember 2011
http://www.kopertis3.or.id/html/wp-content/uploads/2011/04/komunikasi-konseling-versi- doc.pdf
Diakses 20 Desember 2011
Langganan:
Postingan (Atom)