Hari : Rabu
Tanggal : 24 Agustus 2011
Pukul : 14.55-16.55
Jurnal Ke : Satu
Hari ini adalah hari
pertama kuliah ASESMEN PSIKOLOGIS TEKNIK NON TES. Karena dosen mata kuliah ini
adalah dosen baru bagi kami mahasiswa angkatan 2010 maka hari pertama diisi dengan
materi perkenalan. Beliau mengenalkan diri dengan menyebutkan Nama, Alamat dan
No. Hp. Beliau bernama
Ibu Nur Hidayah, alamatnya Malang, No. Hp: 08563610599.
Dalam mengajar mata
kuliah ini beliau tidak sendirian tetapi ditemani dengan asistennya. Asistennya
bernama Ibu Yuiati Hotifah. Ibu Yuliati adalah dosen yang mengajar Psikologi
Pendidikan di Semester 1 dulu dan di Semester ini beliau juga mengajar mata
kuliah Media BK, jadi dengan beliau sudah kenal dan tidak asing lagi.
Setelah perkenalan dosen,
lalu dilanjutkan dengan perkenalan mahasiswa/i. Ibu Nur memanggil satu per satu
setiap mahasiswa/i untuk diabsen sekaligus menanyai alamat asalnya.
Selesai mengabsen emua
mahasiswa/i Ibu Nur membacakan Satuan Acara Perkuliahan (SAP), lalu dilanjutkan
dengan penjelasan mengenai karakteristik dan tujuan kuliah, sekaligus Orientasi
proses kuliah dan pembuatan kontrak serta mempelajari kerangka isi dan proses
perkuliahan membuat kontrak kegiatan pribadi.
Setelah pembacaan
Satuan Acara Perkuliahan (SAP) selesai, Bu Nur menyuruh membuat kelompok.
Pembagian kelompok dilakukan dengan cara berhitung supaya kelompok bisa terbagi
rata dan adil. Dalam satu kelas terdapat 41 mahasiswa/i, maka kelompok dibagi
menjadi 8, dalam satu kelompok terdapat 5 sampai 6 mahasiswa/i.
Tujuan dari pembentukan
kelompok ini adalah untuk mendalami tiap-tiap Asesmen Psikologis Teknik Non Tes
dari persyaratan validitas, rehabilitas, kelemahan dan kelebihan, penggunaan
dan penafsirannya, serta pendokumentasian hasil Asesmen yang dikaji dalam
presentasi kelompok di kelas.
Selesai pembagian kelompok Ibu Nur mengakhiri
pertemuan ini.
Hari : Rabu
Tanggal : 14 September 2011
Pukul : 14.55-16.55
Jurnal Ke : Dua
Pertemuan ke-2 pada mata kuliah ini, sudah memasuki materi awal Asesmen Psikologi Teknik Non Tes yaitu menerangkan Hakikat Asesmen Psikologis Teknik Non Tes. Dalam mengawali masuk kemateri, Bu Nur memberi pertanyaan tentang “Alasan Mengapa Asesmen Psikologis Teknik Non Tes ini dipelajari oleh calon konselor ?”…
Sebelum
menjawab pertanyaan itu Bu Nur menerangkan tentang tingkat profesionalitas dari
Guru dan Dosen itu meliputi apa saja sesuai dengan UU No.14 Tahun 2005. tingkat
profesionalitas guru diukur dari 4 unsur yaitu Pedagogik, Kepribadian,
Profesional an Sosial. Dari keempat unsure itu, Bu Nur menjelaskan satu per
satu. 4 unsur kompetensi tersebut dijembatani oleh PERMENDIKNAS No.27/Tahun
2008 tentang standar kompetensi dan kualifikasi knselor. Kompetensi utama dari
seorang konselor adalah disiapkan untuk memandirikan semua peserta didiknya
dengan membuat NEED ASESMENT.
Penjelasan
mengenai cara membuat Need Asesment meliputi:
a)
Meassurement: pengukuran
b)
Sesment: pengukuran tingkat psikis dengan menggunakan
Teknik Tes dan Teknik Non Tes
Teknik Tes
meliputi Validitas, Rehabilitas, Tingkat Kepribadian, Tingkat Kesulitan, dan
Obyektivitas. Sedangkan Teknik Non Tes meliputi Angket, Observasi, DCM,
Wawancara, Otobiografi, sosiometri, Who Am I, Inventori. Dalam mata kuliah ini
yang dipelajari adalah Teknik Non Tes.
Setelah membuat
Need Asesment lalu dilanjutkan dengan kegiatan Evaluation/Evaluasi/Penilaian
yang merupakan proses pengambilan sebuah keputusan dan menetapkan keputusan.
Sebelum
mengakhiri acara perkuliahan, diberikan tugas mengenai: “Alasan mengapa
asesment penting diperlukan oleh konselor terutama Asesment Teknik Non Tes?”...
Tugas ini
diberikan berkaitan dengan tugas konselor yaag utama adalah bisa memandirikan
semua peserta didiknya. Dimana setiap individu itu merupakan “Individual
Defferences”, yang bermakna individu itu memiliki keunikan yang berbeda-beda.
Untuk bias melaksanakan tugasnya dengan baik, konselor harus bias memahami
peserta didiknya satu per satu.
Hari : Rabu
Tanggal : 21 September 2011
Pukul : 14.55-16.55
Jurnal Ke : Tiga
Pertemuan ke-3 ini
membahas tentang tugas yang diberikan pada pertemuan ke-2, mengenai ”Alasan
Mengapa Asesment Psikologis Teknik Non Tes penting diperlukan oleh Konselor?”
Asesment penting
diperlukan Konselor, karena tugas Seorang Konselor adalah memberikan Layanan
Bimbingan Konseling kepada Peserta Didiknya /semua siswa/ Individu, oleh sebab
itu setiap individu harus dipahami dengan menggunakan Aseesment Psokologis
Teknik Non Tes.
Setelah membahas tugas
tersebut, dilanjutan dengan menerangkan Hakikat Asesment Psikologis Teknik Non
tes dalam memahami diri konseli serta mempelajari hakikatb, tujuan, fungsi,
prinsip dan jenis Teknik Non Tes dan Himpunan Data.
Individu perlu dipahami
satu per satu secara mendalam, yang dikenal dengan istilah ”DEEP UNDER
STANDING” yang artinya pemahaman yang mendalam. Untuk mmeahami tiap individu
agar mencapai ”Deep Understanding”maka diperlukan teknik ”Entry Behavior” yang
artinya perilaku awal. Kita harus mengetahui perilaku awal dari individu
tersebut. ”Entry Behavior”diketahui dari hasil pengamatan langsungberdasarkan
data, fakta, keterangan, informasi, bukti. Kita bisa mengetahui datanya dengan
bertanya, berkenalan, dengan menggunakan instrumen/alat /Teknik Non Tes yang
merupakan salah satu teknik pemahaman perilaku individu. Setelah itu kita sebagai
konselor akan memeperoleh GOAL (Tujuan) untuk mendapatkan ”Deep Under Standing”
Selanjutnya adalah
pertanyaan mengenai Apa?Untuk Apa (Tujuan),? Fungsi? Dan Jenis dari Teknik Non
Tes?................
Teknik Non Tes merupakan Teknik pemahaman terhadap individu dengan
mengakses data/informasi mengenai individu yang berbeda untuk memeahami secara
mendalam individu yang berbeda tersebut.
Tujuan dari Teknik Non Tes adalah Untuk memahami Individu secara mendalam.
Fungsi/Kegunaan dari Teknik Nn Tes adalah
a)
Untuk
mengakses data yang tidak bisa dikumpulkan dengan teknik non tes
b)
Data
dari teknik non tes itu dapat digunakan oleh:
v Guru = membantu meningkatkan prestasi
v Kepala Sekolah = memantau, pertimbangan
untuk pengambilan keputusan
v Siswa = memahami diri
v Orang Tua = mengetahui perkembangan anak
v Konselor = untuk memberikan layanan
responsif
Jenis Teknik Non Tes ada 2 yaitu:
a)
Alat
pengakses/mengumpulkan data meliputi observasi, angket, wawancara, sosiometri,
otobiografi, DCM(Daftar Cek Masalah)
b)
Alat
penghimpun data yaitu Cummulative Record = Catatan Kumulatif.
Sebelum mengakhiri acara perkuliahandiberi tugas
supaya melakukan pengamatan terhadap diri sendirimulai dari masuk pintu/pintu
masuk sampai dengan duduk dikelas?....................
Hari : Rabu
Tanggal : 28 September 2011
Pukul : 14.55-16.55
Jurnal Ke : Empat
Pertemuan
ke-4 membahas tugas pada pertemuan ke-3 tentang pengamatan diri sendiri.
Dibahas dengan diwawancarai satu per satu dari masuk kelas sampai duduk
dikelas.
Setelah
selesai wawancara, dilanjutkan dengan materi kerangka teori teknik observasi
(Other Report), mempelajari hakikat, fungsi, tujuan, prinsip, jnis,
karakteristik, kelebihan dan kelemahan teknik observasi.
Teknik
non testing meliputi Other Report, Self Report, DCM, Sosiotri, Who Am I, CR
(Cumulative Record). Pengertian dan jenis-jenis teknik Other Report, Obervable
dan Unobservable.
Other
Report mrupakan lapran yang dibuat oleh orang lain meliputi observasi,
biografo, sosiometri. Teknik Other Report adalah teknik pengumpulan data diri
siswa yang dilakukan oleh individu diluar diri siswa dengan merekam data
tingkah laku individu melalui proses pengamatan langsung dalam suatu kegiatan
untuk emperoleh gambaran observable behavior (dilihat, didengarkan).
Karakteristik
Observasi meliputi involve, ada kejadian, lansung/tidak langsung, menghasilkan
simpulan, professional.
Manfaat dari
observasi untuk memperoleh data perilaku spontan secara natural, mengetahui
intensitas perilaku secara detail, mengetahui penyebab munculnya perilaku.
Pengamatan (see,hear and feel) dilakukan dengan melibatkan indera mata, telinga
dan perasa, terjadi disetting tertentu, waktu dan obyek tertentu. Event atau
moment observasi adlah ada obyek, kegiatan peristiwa. Observasi langsung
berarti melihat perilaku yang munculdalam kejadian sedang tidak lansung berarti
melihat/mendengarkejadian melalui alat perekam (HP, VCD, Tape, media
cetak/elektronik).
Contoh kegiatan
observable: kerjasama dalam kelompok = kebiasaan belajar? Aktivitas diluar
belajar?hubungan sebaya.
Kelebihan
observasi: natural, terlalu spontan,konselor segera dapat data, konseli tidak
terbebani sdangkan kekurangan observasi: boros waktu dan tenaga, rentan habis
dan manipulasi perilaku.
Kategori tingkah
laku : observable behavior dn unobservable behavior. Observasi bertujuan untuk
merekam data berupa perilaku yang tampak dan perilaku yang tidak tampak.
Observasi dilakukan untuk membantu konselor dalam
a)
Mengembangkan pedoman observasi
b)
Menghindari kekeliruan istilah
c)
Menghindari kalimat bernada stereotif dan prejudice
Sebelum
mengakhiri acara perkuliahan ini, diberi tugas supaya menemukan dan memilih
istilah-istilah observable behavior dan unobservable behaviorutuk setiap bidang
bimbingan: bimbingan pribadi, bimbingan social, bimbingan belajar dan bibingan
karir.
Hari : Rabu
Tanggal : 05 Oktober 2011
Pukul : 14.55-16.55
Jurnal Ke : Lima
Pertemuan
ke-5 membahas tugas pada pertemuan ke-4 yaitu tugas mencari istilah-istilah
observable dan unobservable untuk setiap bdang bimbingan yaitu bimbingan
pribadi, bimbingan social, bimbingan belajar dan karir.
Hasil
pekerjaan tiap individu didiskusikan brsama kelompoknya masing-masing lalu
dibuat laporan ditulis diformat kertas folio dan diberi lampiran hasil
pekerjaan individu.
Setelah
selesai diskusi dengan kelompok lalu tugas dikumpulkan dan pertemuan acara
perkuliahan ke-5 pun diakhiri.
Hari : Rabu
Tanggal : 12 Oktober 2011
Pukul : 14.55-16.55
Jurnal Ke : Enam
Pertemuan ke-6
membahas sajian berbagai pedoman observasi dan merancang bangun pedoman
observasi. Teknik observasi terdiri dari dari daftar cek, Skala penilaian,
catatan Anekdot, dan Tally.
Daftar Cek (DC)merupakan
sebuah daftar pernyataan tentang aspek-aspek yang mungkin terdapat dalam sebuah
situasi, tingkah laku dan kegiatan sehingga DC ini digunakan untuk mencacat
perilaku siswa. Digunakan sebagai pedoman pencatatan perilaku. The Anvantages:
fungsinya mencatat kemunculan sejumlah tingkah laku secara sistematis, dapat
digunakan didalam dan diluar kelas/sekolah, mencatat kemunculan sejumlah
tingkah laku dalam waktu singkat, dapat merekam perilaku individual dan
kelompok sekaligus.
Langkah-langkah
penyelenggaraan DC: A. tahap persiapan penentuan topic, variable, indicator,
predictor, B. tahap plaksanaan penyiapan format PO, penentuan posisi observasi,
pelaksanaan pengamatan, pencatatan, dan terakhi
C. tahap analisis hasil.
Skala Penilaian
(SP) : Daftar segala tingkah laku yang observable dicatat/ dicek secara
berskala observer mencatat kemunculan perilaku brdasarkan kategori skala. Ragam
skala: skala kuantitatif dan kualitatif/deskriptif, skala grafis.
Langkah-langkah penyelenggaraan SP sama dengan langkah-langkah penyelenggaraan
DC.
Kekhasan DC dan SP adalah sama-sama
mencatat perilaku observable, DC hanya mengecek ada tidaknya sedangkan SP
diberi penilaian, kedua2nya dapat dihitung dengan kuantitatif presentase.
Catatan
Anekdot (CA) adalah format observasi berkala, dilakukan untuk mlihat peristiwa
penting. Manfaatnya menghasilkan deskripsi tingkah laku, memperoleh gambaran
sebab akibat perilaku Typical, memahami individu yang lebih mendalam. Langkah
penyelenggaraan CA menentukan observase, menyiapkan lembar observasi,
menentukan posisi observasi..
Hari : Rabu
Tanggal : 19 Oktober 2011
Pukul : 14.55-16.55
Jurnal Ke : Tujuh
Pertemuan ke-7
melanjutkan pembahasan sajian berbagai pedoman observasi dan merancang bangun
pedoman observasi teknik Tally. Tally adalah pencatatan kemunculan perilaku
dengan tanda garis tegak yang fungsinya untuk mencatat intensitas perilaku dari
waktu ke waktu.
Setelah itu
diberi tugas kelompok yang ke-2 yaitu membuat pedoman Tally
- Menentukan Topik
- menentukan Tujuan
- Kembangkan item perilaku
- lakukan pencatatan Tentatip
- membuat grafik Basic Line
setelah diskusi kelompok selesai
tugas langsung dikumpulkan pada hari itu juga, dan pertemuan ini diakhiri.
Hari : Rabu
Tanggal : 26 Oktober 2011
Pukul : 14.55-16.55
Jurnal Ke : Delapan
Pada
pertemuan ke-8 tidak diisi dengan materi karena dosen berhalangan hadir, tetapi
diberi tugas “Meresume Angket dan Wawancara”.
Hari : Rabu
Tanggal : 2 November 2011
Pukul : 14.55-16.55
Jurnal Ke : Sembilan
Pada
pertemuan ke-9, diberi materi tentang Self Report. Menjelaskan pengertian dari
Self Report dan Jenis-jenis self report.
Self Report artinya melaporkan diri
sendiri secara sadar. Tujuannya bagi Konselo adalah untuk membantu konseli
memahami diri.
Jenis-jenis Self Report:
a. Self
Report study : berisi sejumlah pertanyaan /pernyataan yang mana responden
membaca, memahami dan memilih jawaban sendiri tanpa campur tangan dari
peneliti. Mengungkap perasaan, sikap dan keyakinan dari responden. Jenis Self
Report Study:
Angket/kuesioner adalah jenis metode
self report yang terdiri dari serangkaian pertanyaan biasanya dalam bentuk
tertulis yang sangat terstruktur.
Model pengadministrasian kuesioner:
- Face to face questionnaire. Contohnya : sensus penduduk
- Paper-And-pencil uestionaire. Contohnya : Biodata
- Computerized questionnaire. Contohnya : Tes Toefl
- Adaptive Computerized questionnaire
Bentuk-bentuk Angket :
Menurut respondennya : Langsung dan
tidak langsung
Menurut strukturnya : Terstruktur
dan tidak terstruktur
Menurut jenis pertanyaan : terbuka
dan tertutup
Menurut bentuk jawaban : tabular,
skala, cek, kategori
Kelebihan Angket : Efisien, Mengungkap data pemikiran, Mengungkap
keterangan yang bersifat pribadi yang tidak bias secara langsung.
Kekurangan Angket : tidak selalu diperoleh data yang sebenarnya,
kesungguhan mengisi angket (?), keterangan terbatas, social desirability (bisa
harapan dari masyarakat)
Langkah-langkah penyusunan Angket :
- Tujuan angket
- Harapan kerjasama dan jaminan kerahasiaan
- Bahasa sederhana, singkat dan mudah dimengerti
- Bagaimana dan dimana jawaban dituangkan
- Susunan kalimat sederhana dan jelas, hindari kata-kata yang ambigu
- Pertanyaan disesuaikan dengan kemampuan responden
- Hindari kata-kata bersifat sugestif dan memaksa untuk dijawab
- Gunakan kata-kata netral
- Berisi ucapan terima kasih kepada responden atas dedikasinya dalam bekerjasama untuk kepentingan bimbingan.
b. Self
Report Inventory : jenis tes psikologis dimana seseorang mengisi survey atau
kuesioner dengan atau tanpa bantuan seorang peneliti. Mengungkap tentang
gejala, perilaku dan kepribadian yang berhubungan dengan satu atau gangguan
mental/jenis kepribadian untuk mendapatkan wawasan tentang kepribadian konseli
Skala sikap/inventori:
·
Identifikasi tujuan pengukuran
·
Operasionalisasi konstruk teoritis
·
Pemilihan bentuk dan format stimulus
·
Penulisan butir
·
Pemilihan bentuk dan format stimulus
·
Operasionalisasi Kostruk Teoritis
·
Identifikasi tujuan pengukuran
Wawancara
Otobiografi
Hari : Rabu
Tanggal : 9 November 2011
Pukul : 14.55-16.55
Jurnal Ke : Sepuluh
Pada
pertemuan ke-10 diberi materi tentang Wawancara, menjelaskan pengertian
wawancara, jenis wawancara, factor yang mempengaruhi wawancara dan Cara
penyelenggaraan wawancara.
Wawancara merupakan proses interaksi dan komunikasi yang bersifat professional,
bukan merupakan percakapan sehari-hari yang lazim kita pakai.
Wawancara dibagi menjadi 4:
- Wawancara Jabatan
Wawancara yang ditujukan untuk
mencocokkan seorang calon pegawai dengan pekerjaanya yang tepat
- Wawancara Disipliner
Wawancara yang ditujukan untuk
“menuntut” perubahan tingkah laku individu ke arah kegiatan yang diinginkan
oleh pewawancara.
- Wawancara Konseling
Wawancara yang bertujuan untuk
membantu individu dalam mengatasi/memecahkan
masalahnya.
- Wawancara Face Finding
Penyelenggaraanya memerlukan
petugas yang professional/sedikitnya berpengalaman luas dibidang bimbingan,
penuh simpati dan diplomatis.
Wawancara merupakan teknik pengumpul data dengan tanggungjawab
secara lisan baik langsung maupun tidak langsung.
- Wawancara langsung : daa yang dikumpulkan diperoleh dari individu yang bersangkutan. Misalnya wawancara dengan siswa.
- Wawancara tidak langsung : data yang dikumpulkan diperoleh dari orang lain tentang individu yang bersangkutan. Misalnya : wawancara dengan orang tua
Factor yang mempengaruhi wawancara:
- Pewawancara :
Mampu
menciptakan hubungan baik dengan responden.
Menggali
tambahan informasi
Menyampaikan
pertanyaan dengan baik dan tepat
Mencatat semua
jawaban responden dengan teliti dan jelas
- Siswa
Kemampuan
menangkap pertanyaan
Keamuan menjawab
pertanyaan
- Pedoman wawancara
Tersusun
pertanyaan-pertanyaan pokok sesuai dengan aspek yang diungkap
Tersedia tempat
untuk mencatat jawabannya
- Situasi wawancara
Waktu
Tempat
Adanya pihak ke
tiga
- Penyelenggaraan Wawancara
Persiapan : menetapkan variable ukur,
membuat pedoman wawancara
Pelaksanaan : pedoman wawancara, kapan
dan dimana, siapa pewawancaranya
Analisis hasil : tabulasi, skoring dan
kesimpulan
Selanjutnya diberi tugas membuat
OTOBIOGRAFI dan dikumpulkan pada pertemuan berikutnya.
Hari : Rabu
Tanggal : 16 November 2011
Pukul : 14.55-16.55
Jurnal Ke : Sebelas
Pada
pertemuan ke-11 UTS
Hari : Rabu
Tanggal : 23 November 2011
Pukul : 14.55-16.55
Jurnal Ke : dua belas
Pada
pertemuan ke-12 diberi tugas kelompok mengenai Daftar Cek Masalah (DCM).
Kelompok disuruh mencari Hakikat DCM, tujuan DCM, fungsi DCM, klasifikasi DCM,
serta kelebihan dan kekurangan dari DCM. Ditulis dikertas folio bergaris dan
langsung dikumpulkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar